PEMERINTAH KOTA SAMARINDA

Sekretariat Daerah

Gedung Balaikota Jl. Kesuma Bangsa, No. 82 Samarinda

Berita

Bongkar Akar Konflik di Rumah Sakit dalam Seminar Keperawatan, Andi Harun: Leadership Lemah dan Budaya Feodal Ancam Keselamatan Pasien

Berita    12 jam yang lalu   
WANDAN DEWI MURIA SARI, A.Md    29 Kali

Sumber Foto: Diskominfo Kota Samarinda

SAMARINDA.KOMINFONEWS – Wali Kota Samarinda Dr H Andi Harun membedah akar konflik yang kerap terjadi di lingkungan rumah sakit saat menjadi pembicara dalam Seminar Keperawatan RSUD Inche Abdoel (IA) Moeis bertema Leadership, Manajemen Konflik dan Berpikir Kritis di Ruang Arutala Bapperida Samarinda, Minggu (24/5/2026).
Dalam paparannya, Andi Harun menilai konflik di rumah sakit tidak semata-mata dipicu persoalan teknis pelayanan kesehatan, melainkan juga akibat lemahnya leadership, budaya feodal, komunikasi yang buruk, hingga minimnya keberanian bawahan untuk menyampaikan kritik atau masukan kepada pimpinan.
“Perawat takut bicara kepada dokter, staf takut mengkritik pimpinan. Begitu ada kritik dianggap melawan. Itu feodal,” tegasnya di hadapan peserta seminar.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda dr Ismed Kusasih, Direktur RSUD IA Moeis dr Osa Rafshodia MSiH MPH, serta Ketua Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) Kota Samarinda Syaparuddin.
Andi Harun mengatakan, hampir seluruh organisasi di Indonesia tidak lepas dari konflik, mulai dari pemerintahan, organisasi profesi, organisasi keagamaan hingga institusi pelayanan kesehatan.
“Tidak ada satu pun organisasi di Indonesia yang tidak ada konflik. Tinggal tebal tipisnya saja,” ujarnya.
Ia kemudian membandingkan dengan sejumlah institusi kesehatan di luar negeri yang pernah dikunjunginya.
Menurutnya, konflik di rumah sakit luar negeri tetap ada, namun diselesaikan secara sistematis melalui tata kelola organisasi yang jelas.
“Di luar negeri konflik tetap ada, tapi penyelesaiannya dilakukan secara institusional lewat sistem. Bukan personal,” katanya.
Dalam materinya bertajuk Tata Kelola Rumah Sakit Modern: Leadership, Konflik Organisasi, dan Berpikir Kritis, Andi Harun menyebut budaya feodalisme menjadi salah satu akar persoalan yang menyebabkan konflik terus berulang di banyak organisasi.
Ia bahkan mengutip teori Geert Hofstede dalam buku Culture’s Consequences: International Differences in Work-Related Values yang membahas pengaruh budaya terhadap perilaku organisasi.
Menurutnya, budaya senior-junior yang terlalu kuat membuat komunikasi menjadi tertutup dan menghambat penyelesaian masalah.
“Yang penting jangan ribut, itu sering jadi budaya organisasi. Padahal problem fundamentalnya tidak selesai,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya membangun speak up culture di lingkungan rumah sakit maupun Puskesmas agar tenaga kesehatan memiliki keberanian menyampaikan persoalan tanpa rasa takut.
“Ada perawat atau karyawan tahu ini salah, tapi dia takut ngomong karena takut di-judge atau kena sanksi. Akhirnya masalah dipendam dan jadi konflik besar,” katanya.
Selain itu, Andi Harun menilai lingkungan kerja pelayanan kesehatan juga membutuhkan psychological safety atau rasa aman secara psikologis agar pegawai dapat terbuka dalam menyampaikan kritik, laporan, maupun masukan kepada pimpinan.
Menurutnya, rumah sakit modern saat ini menghadapi tantangan jauh lebih kompleks dibanding sekadar pelayanan medis. Tekanan publik, media sosial, kompleksitas regulasi, hingga meningkatnya burnout tenaga kesehatan pascapandemi menjadi tantangan serius yang harus dihadapi dengan tata kelola yang baik.
Mengutip data WHO dan sejumlah jurnal kesehatan internasional, Andi Harun menyebut burnout tenaga kesehatan memiliki korelasi terhadap meningkatnya risiko kesalahan medis dan menurunnya empati terhadap pasien.
Ia juga menyinggung hasil studi British Medical Journal (BMJ) yang menyebut rumah sakit dengan leadership kuat memiliki potensi insiden keselamatan pasien yang jauh lebih rendah dibanding organisasi dengan kepemimpinan lemah.
“Leadership yang kuat bisa meningkatkan kualitas pelayanan dan keselamatan pasien secara signifikan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Andi Harun turut menyoroti hal-hal sederhana yang menurutnya mencerminkan kualitas kepemimpinan sebuah fasilitas kesehatan.
“Kalau rumah sakitnya kotor, toilet pasiennya berbau, banyak debu, catnya kupas-kupas, itu tanda leadership-nya lemah,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa konflik kecil yang tidak segera diselesaikan dapat berkembang menjadi konflik besar dan mengganggu pelayanan publik.
“Konflik kecil jangan dibiarkan. Kalau tidak ada mekanisme penyelesaian, lama-lama menjadi konflik politis dan merusak organisasi,” ucapnya.
Karena itu, ia mendorong rumah sakit dan fasilitas kesehatan membangun sistem mediasi serta penyelesaian konflik yang jelas, terukur dan disusun bersama seluruh unsur organisasi.
“Saya tidak ingin jalan menemukan rumah sakit yang bagus itu hanya datang dari pimpinan. Harus disusun bersama supaya ada kolektivitas dan rasa memiliki terhadap sistem yang dibangun,” katanya.
Andi Harun juga menekankan pentingnya good governance dalam membangun pelayanan publik yang profesional dan bersih.
“Tidak akan pernah ada clean government kalau tidak ada good governance,” tegasnya.
Di akhir pemaparannya, Andi Harun menyampaikan pesan reflektif mengenai pentingnya menjaga arah organisasi melalui kepemimpinan yang kuat dan komunikasi yang sehat.
“Ketika leadership melemah, konflik membesar, komunikasi memburuk, dan keputusan kehilangan arah, maka pasien dan masyarakat yang akan menjadi korban,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan bahwa pemimpin tidak bisa bekerja sendiri dalam membawa organisasi menuju perubahan.
“Kita tidak bisa sukses sendiri. Butuh teman sejawat, butuh karyawan, butuh semua orang dalam organisasi untuk bersama-sama membawa perahu ini sampai tujuan,” pungkasnya.(DON/KMF-SMD || FOTO: MUHAJIR DOKPIM)
Tampilkan lebih sedikit

TINGGALKAN KOMENTAR

Pemerintah Kota Samarinda

Sekretariat Daerah

Gedung Balaikota Jl. Kesuma Bangsa, No. 82 Samarinda

Telp: 0541-731489   Email: setda@samarindakota.go.id   Website: https://setda.samarindakota.go.id


2026