SAMARINDA, KOMINFONEWS – Pengendalian inflasi tidak cukup hanya dilakukan melalui operasi pasar dan pemantauan harga. Pemerintah Kota Samarinda kini mendorong penguatan ketahanan pangan keluarga melalui urban farming sebagai langkah jangka panjang untuk menjaga stabilitas pasokan pangan sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi masyarakat.
Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan Capacity Building Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Samarinda bertema “Penguatan Ketahanan Pangan Keluarga Melalui Urban Farming Terintegrasi sebagai Upaya Mendukung Stabilitas Pasokan Pangan dan Pengendalian Inflasi Daerah” yang digelar di Ruang Arutala Bapperida Kota Samarinda, Rabu (22/7/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Samarinda H. Saefuddin Zuhri, Sekretaris Daerah Kota Samarinda Neneng Chamelia Shanti, Asisten II Setda Samarinda Marnabas Patiroy, Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP), perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, perangkat daerah di lingkungan Pemkot Samarinda, camat dan lurah se-Kota Samarinda, serta menghadirkan narasumber dari Bank Indonesia Kaltim, Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim, serta Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim.
Dalam laporannya, Kepala Bagian Ekonomi Setda Kota Samarinda, Nadya Turisna, mengungkapkan bahwa inflasi Kota Samarinda pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,53 persen secara year-on-year, dengan inflasi month-to-month sebesar 0,72 persen dan inflasi year-to-date mencapai 2,63 persen. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi perhatian bersama sehingga upaya pengendalian inflasi perlu terus diperkuat secara terukur, terkoordinasi, dan berkelanjutan.
Nadya menjelaskan, kegiatan capacity building ini digelar untuk meningkatkan kapasitas dan pemahaman anggota TPID mengenai strategi pengendalian inflasi daerah, sekaligus memperkuat koordinasi dan sinergi antara perangkat daerah, instansi vertikal, BUMD, serta seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan.
Ia menambahkan, tema urban farming dipilih sebagai bentuk komitmen bersama untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga, meningkatkan ketersediaan pasokan pangan, serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam mendukung pengendalian inflasi daerah. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung strategi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K, yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri menegaskan bahwa inflasi yang masih berada pada level 3,53 persen harus menjadi perhatian bersama agar tidak terus meningkat. Menurutnya, urban farming merupakan salah satu solusi yang dapat dilakukan secara langsung oleh masyarakat untuk memperkuat ketahanan pangan dari tingkat keluarga.
“Melalui kegiatan ini kita berharap inflasi dapat terus turun dan salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui urban farming, sehingga masyarakat dapat memproduksi sebagian kebutuhan pangannya sendiri,” ujarnya.
Saefuddin menilai penerapan urban farming tidak hanya membantu meningkatkan ketersediaan pangan keluarga dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah, tetapi juga mampu menekan pengeluaran rumah tangga sekaligus meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
Karena itu, ia menginstruksikan para camat dan lurah agar menjadikan urban farming sebagai gerakan bersama di setiap kelurahan dengan melibatkan PKK, kelompok tani, sekolah, rumah ibadah, dan berbagai komunitas masyarakat.
Tak hanya itu, setiap kelurahan juga didorong memiliki demonstration plot (demplot) sebagai pusat edukasi dan praktik bercocok tanam. Perangkat daerah terkait diminta memberikan pendampingan, bantuan sarana, hingga pelatihan budidaya agar program dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Pemerintah Kota Samarinda berkomitmen menjalankan strategi 4K dalam pengendalian inflasi. Namun keberhasilannya membutuhkan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, Bank Indonesia, dunia usaha, akademisi hingga masyarakat,” tegasnya.
Pada sesi materi, perwakilan Kantor Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Abraham Wahyu Nugroho, memaparkan bahwa Kota Samarinda masih menjadi daerah dengan tingkat inflasi tertinggi di Kalimantan Timur. Komoditas bensin dan avtur disebut sebagai penyumbang inflasi terbesar yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pengendalian inflasi daerah.
Sementara itu, perwakilan Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim, Rizka Nuzli Furkanti, menyoroti pentingnya penguatan ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan pangan lokal sebagai upaya mendukung penurunan stunting sekaligus mengurangi beban pengeluaran rumah tangga.
Adapun Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim, drh. Arief Murdiyatno, menekankan peran strategis urban farming dalam menjaga stabilitas pasokan pangan serta mendukung pengendalian inflasi daerah secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Samarinda berharap terbangun kesamaan persepsi, meningkatnya kapasitas seluruh anggota TPID, serta lahir langkah-langkah konkret yang dapat diimplementasikan untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga dan menjaga stabilitas harga di Kota Tepian. (nesa/dho/kmf-smr || foto:muhajir dokpim)
Tampilkan lebih sedikit