PEMERINTAH KOTA SAMARINDA

Sekretariat Daerah

Gedung Balaikota Jl. Kesuma Bangsa, No. 82 Samarinda

Berita

Andi Harun dan Strategi Tenang Hadapi Pemangkasan TKD

Berita    2 bulan yang lalu   
WANDAN DEWI MURIA SARI, A.Md    307 Kali

Sumber Foto: Diskominfo Kota Samarinda

SAMARINDA. KOMINFONEWS - Rabu (26/11/2025) siang itu, Gedung Serba Guna Universitas Widya Gama Mahakam (UWGM) Samarinda terlihat lebih ramai dari biasanya. Kursi memenuhi hampir seluruh sudut ruangan, mahasiswa, akademisi, birokrat hingga jurnalis duduk membaur, menunggu satu sesi diskusi yang sejak pagi ramai diperbincangkan, yakni Strategi Kaltim Lanjutkan Pembangunan di Tengah Pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD).
Di tengah sorot kamera dan potret suasana intelektual, Wali Kota Samarinda, Dr H Andi Harun melangkah masuk. Sikapnya tenang, namun tegas. Seolah membawa udara baru, sekaligus jawaban yang banyak orang ingin dengar: bagaimana daerah bertahan ketika anggaran dipangkas di saat kebutuhan pembangunan terus membesar?
Moderator Wiji Winarko dari Balikpapan TV membuka diskusi. Satu per satu narasumber hadir mengambil peran pada diskusi yang digagas Kaltim Post tersebut. Ada Dr Subandono selaku Direktur Sistem Perimbangan Keuangan DJPK Kemenkeu yang menyampaikan materi secara daring, Maya Fatmini dari Bapenda Kaltim, hingga Dr Muhammad Astri Yulidar Abbas selaku Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) UWGM. Namun sorotan siang itu jelas tertuju pada Andi Harun, tokoh yang memimpin kota dengan ritme kerja cepat dan keputusan yang sering menjadi bahan pembahasan publik.
Saat mikrofon bergerak ke arahnya, suasana sedikit menegang, lalu hening. Andi Harun memulai dengan analogi sederhana namun kuat. Ia menyebut pemerintahan ibarat pesawat dengan dua mesin, yakni public sector engine dan private sector engine. Bila satu melemah, keseimbangan hilang, perjalanan terganggu.
“DBH (Dana Bagi Hasil, Red) hanyalah salah satu dari dana TKD, selain DAU (Dana Alokasi Umum, Red) dan DAK (Dana Alokasi Khusus, Red). Ketika dipangkas, daerah memang terguncang. Tapi ini bukan alasan untuk panik,” ujarnya dengan kalimat yang langsung mengikat perhatian.
Ia bicara lantang namun terukur. Seperti seseorang yang sudah matang menghadapi guncangan, sekaligus tahu kapan harus menekan gas, kapan menarik rem.
Diakuinya, pemangkasan TKD 2026 membuat banyak daerah gelisah. Samarinda pun merasakannya, termasuk nolnya dana insentif daerah yang sebelumnya jadi penopang program strategis. Kondisi ini oleh Wali Kota disebut sebagai fase shock fiscal—masa ketika ruang gerak menyempit, keputusan menjadi lebih tajam, dan keberanian diuji. Namun respons Samarinda tidak meledak-ledak.
"Saya bilang, jangan panik, jangan marah. Ini momentum evaluasi diri," ungkapnya.
Ia justru mengaku bersyukur, karena dari evaluasi itu, membawa fakta yang mengejutkan, di mana anggaran makan-minum hingga mencapai Rp98 miliar. Dalam satu kalimat, Andi Harun mempertanyakan urgensi angka itu.
“Memang tidak bisa rapat tanpa snack? Bisa saja ditunda. Ini bukan memangkas hak, ini efisiensi," tegasnya.
Kata efisiensi menjadi titik penekanan. Dalam pandangannya, efisiensi bukan pengurangan gaji atau Tunjangan Tambahan Penghasilan (TTP) pegawai. Bukan pula menghambat pelayanan publik. Justru sebaliknya, efisiensi adalah upaya merapikan yang tidak perlu, agar yang penting tetap jalan.
Ia menyebut belanja perjalanan dinas dan alat tulis kantor sebagai contoh. Zaman sudah digital, kebutuhan kertas tak lagi sebesar dahulu. Kata dia, menghemat bukan berarti berhenti bekerja, melainkan bekerja lebih cerdas.
Cerita menarik juga muncul ketika Andi Harun menengok masa lalu. Tahun 1999, saat ia masih di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltim, APBD provinsi hanyalah Rp700 miliar. “Tapi pembangunan tetap berjalan,” katanya.
Sederhana, tetapi menyentuh logika paling dasar, bahwa kekuatan pembangunan tidak hanya ditentukan besarnya anggaran, tetapi tata kelolanya. Bagi dia, uang daerah yang melimpah tapi tak berdampak ke rakyat tak lebih dari angka kosong. Karena ujung dari semua kebijakan adalah satu, yakni kesejahteraan.
“Apa guna kita punya uang banyak, jika tidak kembali untuk rakyat?” tandasnya.
Kalimat itu menutup pembicaraan hari itu dengan jeda panjang yang membuat audiens berpikir. Diskusi mungkin selesai, namun gagasan Andi Harun seperti masih menggantung di langit ruangan, membawa publik merenung sekaligus mengajak birokrasi daerah lain untuk ikut membenahi diri.
Samarinda memilih langkah tenang, bukan reaktif. Tapi menyusun napas fiskal, merapikan belanja, dan menjaga mesin publik tetap menyala. Ya, seperti pesawat bermesin ganda dalam ilustrasi sang Wali Kota. Perjalanan masih panjang, tapi arah sudah ditentukan.
Pembangunan tidak berhenti. Ia hanya menyesuaikan ritme. Dan Samarinda memilih untuk tetap terbang. (HER/KMF-SMR | FOTO: MHJ/DOKPIM)

TINGGALKAN KOMENTAR

Pemerintah Kota Samarinda

Sekretariat Daerah

Gedung Balaikota Jl. Kesuma Bangsa, No. 82 Samarinda

Telp: 0541-731489   Email: setda@samarindakota.go.id   Website: https://setda.samarindakota.go.id


2026