SAMARINDA, KOMINFONEWS – Wali Kota Samarinda, Dr. H. Andi Harun, didaulat menjadi inspektur upacara pada peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025, yang digelar Rabu pagi (22/10/2025) di Pondok Pesantren Al Falah Cabang XIV Lirboyo Kediri, Jalan Wanyi, Kecamatan Samarinda Utara.
Upacara berlangsung khidmat dengan dihadiri Wakil Wali Kota Samarinda H. Saefuddin Zuhri, Kapolresta Samarinda Kombes Pol Hendri Umar, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Samarinda Drs. H. Nasrun, serta para Kepala Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Kota Samarinda.
Mengawali sambutannya, Wali Kota Andi Harun menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya 67 santri dalam musibah di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.
“Semoga seluruh korban mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan serta kekuatan iman,” ucapnya.
Dalam pidatonya, Wali Kota menegaskan bahwa Hari Santri tahun 2025 memiliki makna istimewa, karena menandai satu dekade sejak ditetapkannya peringatan Hari Santri oleh pemerintah pada tahun 2015.
“Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Dalam rentang waktu itu, kita menyaksikan semakin kuatnya peran pesantren dan santri dalam berbagai bidang kehidupan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pesantren telah melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus kuat secara spiritual dan moral. Dari rahim pesantren pula lahir para tokoh bangsa mulai dari pejuang kemerdekaan hingga pemimpin umat dan nasional.
Andi Harun juga menyampaikan rasa syukurnya karena pemerintah pusat memberikan perhatian besar terhadap dunia pesantren, antara lain melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang turut melibatkan lembaga pesantren.
“Pada momen yang berbahagia ini, mari kita sampaikan terima kasih setinggi-tingginya kepada Presiden Republik Indonesia atas berbagai kebijakan dan program yang membawa dampak positif bagi bangsa,” tuturnya.
Menutup sambutannya, Wali Kota berpesan agar peringatan Hari Santri menjadi momentum kebangkitan santri Indonesia di era modern.
“Santri jangan hanya menguasai kitab kuning, tapi juga harus menguasai teknologi, sains, dan bahasa dunia. Jadilah santri yang berilmu, berakhlak, dan berdaya. Rawatlah tradisi pesantren, namun juga peluklah inovasi zaman. Tunjukkan bahwa santri mampu menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton,” pesan Wali Kota. (FER/KMF-SMR | Foto: JIR-DOKPIM)