SAMARINDA.KOMINFONEWS – Pesan tegas namun disampaikan dengan gaya santai khas Jawa dilontarkan Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri saat menghadiri Silaturahim & Halalbihalal 1447 H Paguyuban Keluarga Klaten (Pakarten) Jawa Tengah Kota Samarinda, Sabtu (18/4/2026).
Di hadapan ratusan warga paguyuban yang memadati Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Samarinda, Wawali langsung menyinggung soal sikap dalam menghadapi kritik—isu yang dinilainya penting di tengah kehidupan bermasyarakat maupun dalam pemerintahan.
“Aku dikritik sopo wae saiki wis aman (saya sekarang dikritik siapa saja sudah biasa),” ujarnya.
Namun ia mengingatkan, respons terhadap kritik tidak boleh berlebihan.
“Ojo mencak-mencak nek dikritik (jangan marah-marah saat dikritik). Nek langsung emosi, rumangsa paling bener (merasa paling benar), kuwi malah ora gawe apik (itu justru tidak membawa kebaikan),” tegas Saefuddin yang juga ketua Umum DPP Silaturahmi Keluarga Jawa Kalimantan (Sijaka)
Menurutnya, kritik justru menjadi cermin untuk melihat kekurangan diri.
“Kalau dikritik berarti kita masih ada yang perlu diperbaiki. Itu harusnya jadi semangat, bukan malah tersinggung,” lanjutnya.
Selain soal kritik, Wawali juga mengajak masyarakat kembali pada esensi halal bihalal sebagai ruang saling memaafkan.
“Jenenge halal bihalal niku nopo sih? Istilahe podo njaluk ikhlase ngapuro (halal bihalal itu adalah saling meminta keikhlasan untuk saling memaafkan),” tuturnya.
Ia bahkan menyinggung kebiasaan sehari-hari yang kerap luput dari perhatian.
“Awake dewe iki kakehan duso (kita ini banyak dosa). Kadang ngrasani konco (membicarakan teman), nek ora ono koncone, golek tonggo (kalau tidak ada teman, cari tetangga untuk dibicarakan),” ujarnya dengan nada guyon.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti pentingnya menjaga kekompakan dalam paguyuban agar tetap hidup dan berkelanjutan.
“Ketua kudu iso nyengkuyung lan ngrungkepi (ketua harus mampu merangkul dan menguatkan). Ojo mung pengurus sing aktif (jangan hanya pengurus yang aktif), kabeh kudu melu (semua harus terlibat),” pesannya.
Ia juga mengingatkan agar keterlibatan anggota tidak hanya muncul saat iuran.
“Ojo mung aktif pas urunan (jangan hanya aktif saat iuran). Bar kuwi ilang (setelah itu hilang). Iki sing nggawe paguyuban ora maju (ini yang membuat paguyuban tidak berkembang),” ujarnya.
Mengusung tema “Merajut Silaturahim, Mengukuh Tradisi Menuju Pakerten yang Guyub Rukun”, kegiatan ini dihadiri tidak hanya warga Klaten, tetapi juga berbagai paguyuban lain seperti Sijaka, IKA Pakarti, hingga perwakilan Blitar, Banyuwangi, Bojonegoro, Nganjuk dan Magetan.
Lebih jauh, Wawali mengajak seluruh paguyuban ikut berkontribusi dalam pembangunan Kota Samarinda.
“Kita urip neng Samarinda, ing ngendi bumi dipijak langit dijunjung (kita hidup di Samarinda, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung). Ayo bareng-bareng mbangun kota iki (mari bersama membangun kota ini),” ajaknya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari kesadaran bersama.
“Ojo buang sampah sembarangan (jangan buang sampah sembarangan). Miwiti saka awake dhewe, saka omah dhewe (mulai dari diri sendiri dan rumah masing-masing),” katanya.
Di akhir sambutan, ia mengajak seluruh anggota paguyuban untuk memperkuat solidaritas sosial.
“Yen ono dulur sing kekurangan, ayo dibantu (kalau ada saudara yang kekurangan, mari dibantu). Gotong royong mbangun dulur dewe (bergotong royong membantu saudara sendiri),” tuturnya.
Kegiatan yang juga diisi tausiyah oleh Ustadz Lukman Hakim ini menjadi momentum mempererat silaturahmi lintas paguyuban di Samarinda, sekaligus memperkuat nilai guyub rukun dalam kehidupan bermasyarakat.(DON/KMF-SMR || FOTO: MUHAJIR DOKPIM)